Pages

Adat Minang

Sabtu, 12 Maret 2016



Adat Minang.

Katanya Adat Minang itu ribet? Dan Riyu salah satu orang yang terkena hembusan-hembusan itu. Dia panik luar biasa ketika ada yang bilang kalau acara Pernikahan Adat Minang itu banyak banget prosesinya.

“No, tabungan aku nggak banyak lho.. gimana ya, kalau keluarga besar kamu malah maunya acara gede-gedean gitu sampai dua harian?” Riyu dilemma.
“dua hari? Lha kok? Kan kemarin keluarga kita juga udah sepakat buat sehari aja?”
“teman aku bilang gitu, sampai ada Barabab semalaman? Apa sih Barabab?”
“kamu percaya sama aku aja ya! Jangan percaya sama yang lain, hoax.. okey!”
“tapi kesepakatan kemarin udah semuanya kan? Takutnya ada acara tak terduga lagi?
“Riyu pliss deh, percaya nya sama aku aja ya.. kita Menikah di Mesjid, selametan sebentar, udah.. nggak pake lama dan apa-apa lagi!” saya mulai ketus menjawabnya, karena Riyu masih penasaran, dan begitu percaya sama rumor yang beredar.

Kenapa begitu banyak yang mengira kalau adat Minang itu ribet? Sehingga para anak muda disini menjadi imbasnya, kebanyakan Jomblo karena takut dilamar sama orang dengan berbeda Suku. Duh.. sampai segitu nya lho? Kasian kan, Para Pejuang Rantau yang nggak laku-laku disini.

Nah saya coba terangin ya, walau nggak komplit. Tapi cukuplah untuk membantu menjawab pertanyaan dari teman-teman diluar sana yang masih beranggapan kalau Adat Minang itu Ribet!! Dan katanya mesti punya banyak uang dulu baru bisa Menikah dengan Orang Minang? Wew?

Yang pertama, Menikah itu kan Sunnah Rasul, kalau kamu sudah mampu, laksanakanlah. Tapi ada kendala nih sama Materi, yang katanya harus bayar “isi kamar, biaya dapur, hingga uang penjemputan segala macam” jawabannya ada pada acara Lamaran.

Pada saat sesi Lamaran, kamu akan ditanya berupa persyaratan dan kesanggupan, kalau pada awalnya kamu bilang soal “Materi” yang hanya nggak seberapa, dan keluarga yang Dilamar menyetujuinya, itu sudah valid. Tidak akan ada yang namanya “uang tak terduga” lagi ditengah jalan. Karena Orang Minang itu kuat akan rasa Segannya, mereka akan malu kalau berbeda omongan dari awal dan di akhir. Percaya deh, semuanya tergantung dari sesi Lamaran.

Nah, ada juga nih, tentang persyaratan yang tidak disetujui oleh pihak yang Dilamar, kendala Materi tadi. Itu berarti namanya tidak Jodoh. Carilah Jodoh yang mau menerima kamu apa-adanya ya, dan juga mau menerima Keluargamu bagaimanapun keadaanya. Simpel kan? Karena Menikah itu bukan paksaan, dan setiap orang sudah punya Jodohnya masing-masing. “yang itu belum jodoh, berarti ada jodoh lainnya yang sedang menanti” (nenangin hati).

Pada intinya, jangan beranggapan sepelik itu soal Menikah dan Adat. Adat Minang itu nggak ribet kalau dari awal kamu sudah jujur dengan keadaan kamu yang sebenarnya. Tapi, akan berbeda jika kamu dari awalnya sudah meninggikan hati dan Derajat Keluargamu agar diterima oleh Pihak yang Dilamar. Yaa pastilah mereka juga akan tertantang untuk memberikan syarat yang aneh-aneh. Minta diadakannya Randai, Barabab, dan Tari Pasambahan segala. Karena menurut mereka Keluargamu merasa mampu untuk menyanggupinya.

Setiap Adat Istiadat dari berbagai Suku di Indonesia pasti punya ciri khas nya masing-masing, tapi pada intinya kan itu tentang kesanggupan dari kedua belah pihak saja. Jangan beranggapan kalau Menikah itu Mahal. Kalau kantongmu cuma sanggup buat bayar penghulu di KUA, kenapa enggak. Yang penting kan SAH, pulang-pulang sudah bawa Istri juga yang SAH. Atau menurut kantongmu cukup untuk Perayaan Pesta dengan berbagai Acara dan Adatnya, itu lebih baik lagi. Karena dengan begitu, kamu sudah membuat orang sekampung bangga akan kesuksesanmu. Simpel kan?

Dan pliss, jangan buat Para Pejuang Rantau disini yang nggak laku semakin banyak gara-gara Rumor yang semakin lama semakin menyebar ya.

  
Untukmu Terimakasih.

Katanya sih wajar kalau jatuh cinta lagi sama pacar setelah dilamar, seperti puber keduanya Bapak-bapak empat puluh tahunan  kali ya. Lucu memang, agak aneh juga kadang-kadang. Tapi yang saya rasakan setelah Lamaran kemarin memang seperti itu, ucapan demi ucapan saya kepada Riyu itu menjadi berbeda, lebih halus tutur katanya, awawaw..

Setelah tanggal istimewa di tetapkan, perasaan saya memang menjadi bertambah banyak dengan Riyu. Kalau diibaratkan perasaan saya ini, seperti saat membeli sebuah Tas di toko Branded yang sudah dari dulu diincar, dan akhirnya kesampaian beli juga. Karena niat yang kesampaian tadi, jadi perasaannya sudah tenang dan senang. Ya, kurang lebih seperti itulah gambaran perasaan saya saat ini. Membayangkan sesuatu yang sudah dari dulu diinginkan akhirnya dapat juga. Sudah tidak takut lagi keduluan sama orang lain. Tapi, eits eitssss.. itu hanya perumpamaannya saja, bukan Subjek yang sedang dibicarakan, karena pacar saya itu orang bukan barang, dan sangat istimewa. Ketawa geli bacanya, iya-in aja dulu.

Cerita saya di minggu pertama setelah tanggal Istimewa itu adalah ketika Riyu menelepon saya malam hari. Seperti biasa Riyu akan menanyakan saya sudah makan atau belum, karena dia tau saya paling malas makan malam karena takut gemuk.

            “No, udah makan belum?”
            “udah dong..”
            “makan jam berapa?”
            “hihi.. jam 5 sih tadi pas pulang kerja!”
            “jam 5 itu makan sore, bukan makan malam No?”
            “iya Ri, ini bentar lagi mau keluar beli pecel!”
            “beneran???”
            “iya siapp…”
            “bener ya No, aku mau kamu fotoin pas lagi makan, aku tungguin!”

Riyu memang selalu bawel untuk urusan kesehatan, apalagi soal makan malam. Karena kenyataannya dulu saya sering berdebat dengannya hanya karena persoalan saya tidak mau makan malam. Tapi sekarang, karena keadaannya sudah berbeda, saya adalah Calon Istrinya (ihiii.. calon istri) jadi harus membiasakan diri menuruti semua perkataannya, walaupun harus merubah kebiasaan saya sekalipun.

Padahal dulu semenjak masa pacaran, kalau Riyu nelpon jawabannya hanya sekenanya saja. Belumlah, yasudahlah, nanti sajalah, besok sajalah, dan lain-lainnya. Tapi sekarang, naruninya sudah berbeda, jawab “iya” saja terus dengan Riyu. Ahh… Jatuh Cinta lagi.

Apakah mungkin yang saya rasakan dan lakukan ini sama seperti pasangan lainnya diluar sana yang setelah dilamar? Atau jangan-jangan hanya saya saja yang berlebihan. Jika memang begitu, saya harap maklum, karena Dilamar dan Menikah itu adalah salah satu cita-cita saya dari dulu. Sekarang sudah kesampaian Dilamarnya, tinggal menunggu Menikahnya saja, makanya mungkin karena takut kehilangan, jadilah saya dengan sifat penurutnya saat ini. Ini hanya buat kamu lho Ri.. 

“untkmu terimakasih, sudah mau memilihku untuk menjadi pendampingmu kelak, aku tidak tau bagaimana caranya meneymbunyikan perasaan bahagia ini, kamu laki-laki yang selalu aku pikirkan disaat aku bangun tidur, sekarang menjadi pelabuhan cinta terakhirku, aku tidak memilihmu, tapi cinta kitalah yang memilih kita untuk menyatu, aku tidak hanya beruntung, karena aku sadar akan sifat egoisku, tapi aku bangga kamu bisa menyempurnakanku, dengan pelan-pelan mengubahku menjadi lebih baik, dan semoga akan terus begitu sampai nanti, sampai kita tua nanti, kamu tidak pernah lelah merubahku menjadi lebih baik. Ya, sekali lagi untukmu, aku ucapkan terimakasih.

Secarik coretan hati untukmu, semoga kamu baca ya.. (malu-malu kucing sambil tutup wajah dengan tangan).


“Perkenalkan Ini Calon Saya..”

Ada perasaan yang berbeda ketika di sebut “Calon” oleh si Calon sendiri saat mengenalkan saya kepada teman-temannya. Bangga, senang, tenang, malu, bahagia, deg-deg-an, dan semua campur aduk menjadi satu seperti gado-gado. Memang benar yaa luar biasa sebuah hati ketika sudah tertambat, dan tertambatnya pada laki-laki yang Insya Allah sebentar lagi akan menjadi Imam kita, wahh saya makin Jatuh Cinta nih sepertinya. Uhuyyy...

Minggu malam jadwalnya Riyu futsal. Biasanya Riyu nggak akan ngebolehin saya ikut nemenin karena pulangnya yang sudah larut malam, dan besoknya kerja. Tapi hari ini dengan santainya dia bilang, “nanti malam temenin aku ya No..” dan saya langsung berseri-seri jawabnya “Ok!”

Ini tuh pertama kali kesini. Lapangan futsalnya lumayan gede, dan semuanya penuh dengan cowok-cowok keringat dengan baju futsal tanpa lengan. Pemandangan yang lumayanlah.. jadi buat otak refresh, daripada sibuk Instagram-an di kamar Kos, mending lihat cowok-cowok yang Postif ini, yang lebih memilih Minggu Malamnya dengan Olahraga, daripada ngopi-ngopi di Kedai Kopi.

Saya duduk sendirian disini nungguin Riyu selesai olahraga. Saya jadi tukang jagain tas, dan ngasih botol minuman ke dia. Sesekali lihat Riyu main futsal seru juga, tapi yang bikin nggak seru tuh selama 2 jam lebih dianggurin dari balik lapangan dan cuma di monyong-monyongin bibir dari jauh, katanya sih itu kecup jauh. Argh.. dipikirnya saya luluh kali ya! Tapi nggak apa-apalah, walau bete sedikit, saya jadi tau kegiatan Riyu setiap Minggu malam ternyata positif juga. Dan sepertinya ini jadi malam pertama dan malam terakhir nemenin Riyu futsal.

Jam 10 malam kurang 5 menit, akhirnya Riyu selesai juga mainnya. Riyu menghampiri saya dengan dua orang temannya.

“kenalin ini Calon gue, Nola” Riyu langsung menunjuk kearah saya kepada dua temannya.
            “iyaa, udah liat gue di Pic Foto Wa lu, hai..” sambut temannya yang agak gendut.
“oooo… iya..iya.. btw selamat ya, sukses persiapannya!” kata teman Riyu satunya lagi.
“iya, makasih..” dan seperti biasa, berikan senyum termanis!

Luluh sudah dua jam bete nungguin Riyu selesai futsal dengan sekalimat kata yang membuat saya hampir nggak sadarkan diri karena ketinggian melonjaknya, “Calon”.

Hari demi hari banyak sekali kesenangan-kesenangan yang terjadi dari cerita persiapan pernikahan kami.Walau seringkali ada kerikil kecil yang tiba-tiba datang, tapi itu seru kok di jalanin bersama si Calon ini. Salah satunya cerita Mama saya, atau si Camer nya si Calon yang riwehhh banget soal souvenir, seragam, foto, sama undangan. Mama wajib nelpon dua kali seminggu cuma buat memastikan semuanya sudah benar apa belum. Memang bikin lelah hati tuh Ibu-ibu satu, tapi saya dan Riyu jadi belajar banyak menghadapi Orang Tua dan Mertua. Lebih banyak sabarnya. Karena Menikah itu, ternyata bukan hanya menyatukan saya dan Riyu saja, tetapi juga menyatukan dua Keluarga. Yaa, begitulah kenyataannya. Kenyataan yang banyak jadi problema bagi pasangan yang akan Menikah. Berdebat sama Orang Tuanya. Intinya banyak-banyaklah sabar. Iyaa… banyak sabar!

Persiapan pernikahan itu tidak akan ada habisnya. Ada lagi yang lupa, ada lagi yang ketinggalan. Itu sudah rahasia umum kata si Artikel-artikel di Google. Tapi kalo semuanya diikutin habislah sudah saya dan ATM saya ini, lalu setelah Menikah saya dan si Calon cuma bisa bengong sambil liatin meja makan yang isinya foto-foto nikah semua, bukan makanan. Kan nggak lucu..malu sama berit cekikikan.

Katanya sudah mulai dewasa tahapannya kalau menuju ke jenjang itu. Jadi harus lebih selektif membelanjakan uang di tabungan. Udah nggak bisa lagi sembarangan beli ini dan itu, hang-out sana-sini, minumnya air mineral aja, nanti dulu yang berwarna-warna, dan bedaknya sementara beli yang kecil dulu yaa.. ouhhhh sakit rasanya kaya kejedot. Tapi, demi menjadi Ratu sehari di Pelaminan itu, saya rela nggak ngeMall beberapa Minggu ini.

No, jalan yuk..
Lagi males..
Gue ada Voucher nonton!
Enggak..
Tumben?
Lagi males, titik..


Pesan Whatsapp dari teman kantor, langsung dipatahin aja, daripada di rayu-rayu nggak jelas, yang ujung-ujungnya nanti saya jadi mau ikut nonton karena tergiur sama Vouchernya! Emangnya nonton nggak pake minuman? Nggak pake Popcorn? Ujung-ujungnya saya kalap sama makanannya!! kan duitnya lumayan buat nyicil baju seragam.

No, temenin gue beli lipstick dong..
Lagi nggak enak badan
Hah? Lu sakit?
Iya
Yaudah, cepat sembuh ya..


Jawaban whatsapp dari teman mending langsung dibilang sakit aja, biar nggak ada alasan lagi buat rayu-rayu. Nemenin beli lipstick, ujung-ujungnya saya yang belanja banyak. Ah sudahlah, ingat aja tabungan di ATM yang udah ngeness.

No, lu pesan minum apa?
Air mineral aja!
Tumben nggak cappuccino?
Lagi sakit tenggorokan..

Kalau lagi istirahat makan siang, sebisa mungkin makan yang banyak, dan minumlah minuman yang sehat, yaitu air putih. Lupakan kebiasaan buruk minum cappucino, karena akan bikin tenggorokkan sakit. Padahal nggak cuma tenggorokkan yang sakit, kantong pun ikutan sakit kalau tiap hari minumnya begituan. Padahal Cappucino itu kan minuman kesukaan saya bnaget!! Sedih..

Satu bulan berlalu dengan jerih payah menahan diri dari kebiasaan buruk, demi hari Istimewa itu. Sekarang sudah masuk bulan ke 2, yaitu berarti tinggal beberapa bulan ke depan lagi. Untuk persiapannya saya sudah mulai menyicilnya dari yang kecil-kecil terlebih dulu. Dengan di temani si Calon kesana-kemari, panas terik jadi adem dan hujan badai jadi Romantis. Namanya juga lagi Jatuh Cinta yang kedua, jadi dimaklumin aja ya.

Proses ini akan menjadi pembelajaran yang berharga sekali buat kami, dan pembelajaran itu nanti akan di Estafet kepada teman-teman lainnya yang juga akan Menikah seperti kami. Ribetnya memang kebangetan, hari H nya saja yang masih lama, saya sempat drop minggu kemarin, apalagi kalo hari H nya sudah tinggal beberapa hari lagi?

Saya sempat stress memikirkannya, sampai-sampai apa yang dimakan keluar lagi. Yaa gitu deh kalo kebanyakan mikir, lambung mulai ngambek karena nggak di perhatiin. Makan dan muntah hampir setiap hari. Lemas..


“Hallo para Calon Pengantin di luar sana, mungkin ceritanya hampir sama dengan cerita saya di atas. Marilah kita sama-sama berdo’a agar di mudahkan segala urusan oleh NYA, di jauhkan dari kolektor-kolektor karena tidak sadar pake Kartu Kredit yang sudah over limit, atau tawaran temen ternyata rentenir yang ngejar-ngejar kita sama bunga pinjamannya, atau tergiur selebaran butuh dana tunai one day service, ouhhh jauhkan-jauhkan. Menikahlah seada dan sesanggupnya, yang penting pokoknya sudah dilaksanakan, yang Sunahnya kalo ada rejeki nggak apa-apa, tapi kalau nggak ada jangan dipaksa ada”. Ini bekal dari Atasan saya sore tadi, saat saya curhat tentang persiapan Pernikahan yang ribet.Sangat bermanfaat banget pak, terimakasih.

Saya Dilamar

Sabtu, 13 Februari 2016


Yang dinanti akhirnya datang juga, tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu itu. Tidak ada hujan tidak ada angin topan, Riyu tiba-tiba melamar saya, walaupun nggak ada romantis-romantisnya, tapi saya dag-dig dug.

“no, Mama Papa kamu ada rencana kesini nggak?”
“hmm, ada sih akhir Desember ini, tapi belum pasti juga sih. Emangnya kenapa?”
“oo.. gini.. aku langsung aja ya! Kemarin aku pulang ke Rangkas tu sebenarnya ngobrolin soal kita. Mama dan Papa sudah pengen jadiin kamu mantunya. Intinya gitu.. jadi, kita berencana mau ke Padang buat ngelamar kamu”
“ooooo…” masih menyaksikan mulut Riyu yang nggak berhenti bicara.
“tadi aku browsing harga tiket ke Padang itu ternyata mahalll ya? Nah, aku pikir kalau Mama Papa kamu kebetulan kesini, jadi yaudah disini aja ngomongin maksud baik keluarga aku!! Gimana menurut kamu?”
“hmh… kamu ini ngelamar ya?” seolah masih belum percaya.
“menurut kamu gimana? Ini ngelamar atau sekedar mendongeng aja?”
“nih ya aku kasih tau sama kamu, cowok tuh kalau mau ngelamar ceweknya harus romantis. Ajak makan malam kek, kasih surprise kek, atau gimana gitu jangan pas lagi gini.. kaya kita hari-hari biasa, nggak ada yang spesial” sedikit manyun, tapi dalam hati beda.
“nih yang begini nih, kebanyakan nonton video Wedding.. kamu tuh berharap aku ngelamar kamu di tengah-tengah danau ya? Atau loncat dari tebing tinggi? Ya enggaklah.. ngapain. Yang penting aku tau kalau kamu sayang, dan aku juga sayang sama kamu. Dan aku pengen Nikahin kamu. Udah, itu aja. Ini tuh bukan drama Korea no.. jangan lebay deh!”
“tapi nggak gini juga ri….” Masih berdebat dengan gaya lamaran yang romantis.
“udah sih, jawab aja Mama dan Papa kapan kesini?” Riyu mulai bete sama saya yang mulai merengek-rengek.
“iyaa.. nanti aku telpon hari apa kesininya?” tetap sambil manyun jawabnya.
“aku sayang kamu…” Riyu sambil memeluk, dan saya menitikkan air mata.

Harusnya momen ini spesial banget buat aku tuliskan, atau jadi momen yang tidak bisa dilupakan karena terlalu romantisnya. Tapi kenyataannya, ini memang bukan Drama Korea. Jadi, mungkin ini sisi romatis versi Riyu, dan saya bahagia. Walau niat lamaran Riyu ini sempat bikin kita bete-betean, tapi initnya kita tau bahwa kita saling butuh. Tidak akan bisa bertahan lama betenya. Jadi di syukuri saja dengan hari ini. Yeay.. saya dilamar, kawin kawinnn…

Malamnya saya langsung menelepon Mama, untuk menyiarkan kabar yang bahagia ini. Saya langsung membayangkan wajah Mama dan Papa yang berseri-seri dari balik telepon.

            “asalamualaikum Mam..”
            “waalaikumsalam dek, apakabar kamu! Udah jarang nelpon.. sibuk ya dek?”
            “maaf yam Mam, lagi lembur terus.. pulang-pulang udah tidur!”
            “iya nggak apa-apa.. kamu sehat kan?”
            “alhamdulillah Mam..”
“ohiya kebetulan kamu nelpon, Mama mau cerita deh.. semalam Mama mimpi kamu pulang ke Padang. Tapi nggak sendiri, berdua sama cowok, tapi cowoknya bukan kaya Riyu. Kamu baik-baik aja kan sama Riyu?”
“nah itu dia mam, yang mau Nola omongin”
“hah..” Mama kaget, sepertinya memikirkan kalau saya sudah putus denga Riyu.
“tadi siang Riyu nanyain Mama Papa jadi kesini nggak akhir Desember ini?”
“kenapa gitu? Insya Allah jadi. Setelah Anak Murid Mama terima lapor Mama langsung berangkat kesana sama Papa, kan mau Tahun Baruan sama kamu!!”
“Mam…. Nola dilamar Riyu tadi siang…” suaranya agak sedikit bergetar karena tidak bisa menahan rasa senangnya dihati.
“beneran sayang? Alhamdulillah..” dan mama langsung hilang suaranya..
“Mam.. Mam.. masih disana? Mam..” yah sinyalnya langsung hilang.
“dek, kamu dilamar?” tiba-tiba bang Onal menjawab telepon. Ternyata Mama sedang menggilirkan Hp nya kepadan bang Onal dan Papa.
“banggg, adekmu dilamar… sebentar lagi nikah! Udah ikhlas belum adiknya jadi milik orang?”
“hmmm.. dia nya juga udah siap belum minta izin sama Abang?” bag Onal sambil ketawa.
“nak, Papa senang dengarnya, selamat ya!” sekarang giliran Papa yang memegang Hp.
“makasih Pa, Pa.. nola senang banget hari ini!!”
“iya, apalagi kita disini..”
“dek, besok Mama beli tiket ya, Mama mau buru-buru kesana!” Mama langsung merajai Hp nya sekarang. dan sepertinya sedang senang banget.
Saya pikir, punya pacar orang yang bukan keturuan Minang itu adalah perdebatan panjang bagi keluarga. Karena jika menikah, otomatis saya akan stay lebih lama di pulau Jawa dibandingkan Sumatera. Yang intinya, bakalan jarang pulang. Sedangkan, saya sudah diwanti-wanti keluarga dari dulu untuk mengurusi semuanya disana. Jadi, agak sedikit takut kalau saya menikah dengan Riyu pada akhirnya mereka tidak setuju.

Tapi sepertinya waktu sudah berubah, saya tidak tau obrolan dari mulut siapa yang paling berkuasa disana, sehingga cucu perempuan satu-satunya ini dilamar oleh orang seberang, mereka malah senang, bukannya khawatir akan ini dan itu. Mungkin itu tandanya keluarga saya sudah mulai modern kali ya, jadi mengikuti perkembangan Zaman. Atau memang karena kasihan sama saya nggak laku-laku dari dulu, jadi sekalinya laku, udah dipasrahin aja. Ya ampun! Segitunya. Tapi Alhamdulillah aja deh, yang paling penting buat saya hari ini tuh “bahagia sekali”.

***

Sesampainya di Jakarta, Mama dan Papa langsung mengatur rencana untuk pertemuan itu. Kebetulan kami ada keluarga di daerah Bekasi. Anaknya Kakek, dari istri kedua. Karena Mama anak tunggal, nggak punya adik atau kakak lagi, jadi waktu kecil Mama dikenalkan dengan saudara-saudaranya dari istri kedua Kakek. Dan beliau ini salah satunya. Saya memanggilnya dengan sebutan Mak dang juga. Tapi bukan Mak dang yang di Padang, ini Mak dang yang di Bekasi.

Akhir Desember 2015 ini menjadi hari bersejarah buat saya, Riyu, dan keluarga kami. Riyu datang bersama keluarga besarnya, lengkap dengan keponakan-keponakan kecilnya yang lucu.
Hari itu adalah hari minggu, tepatnya jam 11 siang lewat sedikit. Keluarga besar Riyu sampai di rumah Mak dang. Dari pihak Riyu ada 12 Orang yang datang. Digabungkan dengan keluarga saya sekitaran 10 Orang. Jadi, di ruangan ini ada sekitaran 22 Orang dengan wajah yang hampir sama semua, yaitu wajah deg-deg ser… apalagi Riyu.

Kebetulan siang itu saya diberi amanat untuk duduk manis saja diantara Mak dang dan Papa. Cukup berikan senyum manis, walau hati lagi nggak jelas, tetap berikan senyum semanis mungkin, agar Riyu semangat melamar saya, dan nggak berubah pikiran.

Sambil menyimak saut-saut pengantar dari masing-masing keluarga kami, seperti acara rapat RT. Ada kata pengantar sebelum pembukaan acara di mulai. Di dalam hati saya berkata “o.., emangnya ada begini juga ya kalau acara lamaran itu!” kirain dikampung  aja yang kalau ada apa-apa dirapatin dulu, ternyata disini juga. Namanya juga pertama kali, saya hanya menonton dan mendengarkan saja. Setiap patah kata yang di ucapkan oleh Mak dang, dan dijawab oleh pihak keluarga Riyu dengan rangkaian kata yang indah.

“Jika ada keluarga pemuda datang kerumah wanita dengan bermaksud baik dan membawa *patuka tando, tentulah maksud dan tujuannya adalah Meminang sang gadis penghuni Rumah” tutur kata Mak dang yang Minang banget.
“betul sekali bapak, kami disini bermaksud untuk meminang anak gadis Bapak yang sudah membuat anak kami jatuh hati kepadanya” jawaban dari uwaknya Riyu.

Saya seperti sedang menonton film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick” saat Pevita dilamar sama Reza Rahadian. Aduh, lagi-lagi saya membayangkan sebuah film, udah.. udah ini lagi serius.

Cukup lama saut-sautan pantun dari dua keluarga, acara selanjutnya adalah *manakuak hari pernikahan kami nanti. Dari sekian banyak tanggal baik, ada dua tanggal yang menjadi pilihan keluarga kami semua yang ada disini. Yaitu pertengahan bulan Juli tepatnya setelah Hari Raya, dan satu lagi pada awal Sepetember sebelum Lebaran Haji? Keduanya sama-sama tanggal baik, alias pas banget sama Liburan, duh tiket pasti mahal itu, di dalam hati saya.

Ternyata tidak butuh lama untuk menentukan tanggal baiknya, kami semua setuju dengan awal September, yang artinya itu sebelum Lebaran Haji. Dan selesailah sesi Manakauk Harinya. Lanjut kepada sesi *baretong.

Adat Baretong di Minang itu katanya seru banget. Saking serunya bahkan ada lho katanya yang sampai membatalkan lamarannya, hanya gara-gara kedua belah pihak keluarga tidak menyetujui persyaratan masing-masing. Amit..amit.. jangan sampai itu terjadi disini.

Alhamdulillah, sesi baretong berjalan mulus. Mungkin karena Mama dan Papa saya sudah kebelet pengen punya Mantu kali ya, jadi persyaratan apa saja di iya-in aja sama mereka. Atau memang lagi hari baiknya kami semua disini, jadi dilancarkan acaranya dari awal hingga akhir.

Bekasi siang itu menjadi cerah sekali, secerah hati saya, karena telah menjadi saksi penyatuan dua keluarga kami. Dengan sudah di sah-kannya sebuah tanggal baik di *hari baiak dan bulan baiak lalu persyaratan lainnya dengan lancar.

Perasaan saya sangat bahagia, walau sedikit ternoda bahagianya gara-gara memikirkan soal tabungan di ATM ada berapa ya? Karena ketika Tanggal Pernikahan sudah di tetapkan, berarti pintu gerbang yang sesungguhnya telah terbuka. Inilah tujuan yang sebenarnya. Menjalankan Sunnah Rasul kami.

Kedepan pasti akan banyak yang dilewati, katanya aneh-aneh lho persiapan pernikahan itu. Nah saya cukup penasaran. Isu-isu soal pra menikah pasti ada saja, lalu bisik-bisik tetangga sana dan sini, curhatan teman lama, dan nasehat dari Mama Papa dan Calon Mertua akan menjadi bumbu manis asem manis dalam beberapa bulan ke depan. Tapi Insya Allah niat baik ini selalu dilancarkan oleh Allah SWT, aamiin..aamiin yang banyak.

Keterangan bahasa Minang di atas :
Patuka Tando : mempertukarkan tanda ikatan masing-masing, atau cincin tunangan.
Manakuak hari : menentukan waktu kapan niat itu akan di laksanakan.
Baretong : memperembukkan tata cara yang akan di laksanakan dan apa saja penjemputan yang akan di bawa pada saat Pernikahan.
Hari baiak dan bulan baiak : penentuan tanggal yang bagus untuk acara tersebut di laksanakan

27 Th

Sabtu, 12 Desember 2015

Dua Puluh Tujuh Tahun.

Di penghujung 2015 ini, pastinya banyak sekali harapan untuk Tahun depan. Karena pada Tahun ini ujian hati tidak berhenti datang bergantian hingga malam ini saat saya menulis di depan laptop buluk kesayangan ini.

“Sebuah keegoisan terkadang menghancurkan pilar yang sudah berdiri kokoh sejak awal” Jiyahhh, omongannya berat banget! Udah ah, minum cappucino dulu biar semangat nulisnya.

Sebenatar lagi usia saya 27 tahun, tidak ada lagi yang namanya anak muda labil yang sebentar ngomong A terus sebentar lagi pindah ke-B. sudahlah Nola, lupakan kelabilan itu, sekarang fokuslah sama apa yang diucapkan. Harus konsisten dengan perkataan, harus pikirin dulu apa yang akan diucapkan, jangan asal nyablak kalau kata orang sini.

“okey, baiklah Nola.. akan saya coba” jawaban dari dalam hati ini, seolah-olah ada dua jiwa di dalam sini. Yang satu  Malaikat, dan satu lagi Setan.

Yang pertama sekali harus dibenahi adalah sifat saya. Riyu bilang saya orangnya pendendam. Kalau lagi kesal sama orang saya sampai bilang “lihat aja nanti..” yang tidak sengaja banget kata-kata itu keluar dari mulut saya. Padahal maksud hati nggak sampai sedendam itu lho, kan orang itu cuma senggol sedikit, nggak sampai jatuh apalagi berdarah. Tapi sumpah serapahnya keluar seperti nggak ada saringannya. “nggak boleh gitu lagi ya Nola” kata Malaikat baik di dalam hati saya”

Kadang, emosi itu memang naik turun dengan sendirinya. Tergantung situasi. Kalau memang lagi senang, ya mau ngapain aja orang-orang di depan saya sampai jungkir balik asal tidak mengganggu, ya dibiarin aja. Tapi kalau lagi moodnya jelek, senggol nggak sengaja dikiiiit aja jadi sinis menatap mereka. Parah kan? “jadilah pribadi yang pemaaf” kalau kata Ibuk, dan jujur itu sulit.

Riyu kadang kewalahan menampung segala sifat buruk saya, semuanya diceritain sampai dia bilang “kamu tuh masalahnya banyak banget, aku cape!!”. Ya, memang saya agak banyak bicara, dan cerewet, sepertinya turunan dari mama. Semua buat saya jadi masalah, kalo mood lagi nggak baik. Sampai si abang jualan jus langganan salah bikinin jus buat saya, ngomelnya sampai tuh jus yang diganti selesai, baru deh selesai juga ngomongnya. Dan setelah berjalan jauh, trus tiba-tiba kasihan lihat si abang jusnya saya omelin.

Bukan cuma itu, kadang Riyu suka nggak tahan juga lihat kebiasan buruk saya, padahal menurut saya itu masih normal. Yaitu rayuannya si Nona Diskon di Mall.  lebih berat mana yaa dibandingkan dengan senggol bacok? Dan Riyu menjawab, Kalau yang ini lebih parah. Yaiyalah.. soalnya saya masih sering kalap kalau lihat Tas Incaran dari Bulan lalu nongol dengan Diskon 50% nya. Dan saya sampai tidak bisa tidur karena takut keduluan orang lain. Dan pernah sampai berantem sama Riyu dan dia bilang “istri yang aku cari tu bukan kaya gini..” dan saya bisa apa? Dengan cinta di hati, dan jiwa di Tas? Galaunya seperti ditinggal kekasih menikah. Mungkin seperti itulah perasaan saya disaat tas Incaran ternyata sudah dipersunting wanita lain. Arghhhh… sabar!

Kadang Miss Diskon itu tau diri banget ya menempatkan posisinya. Pas lagi Gajian, pas juga lagi ke Mall, dia datang memanggil. Naluri Perempuan mana yang berani menolaknya coba? Apalagi itu Everbest? Yang kualitasnya saya jamin akan tahan sampai punya cucu. Tapi apa daya, hasrat ingin Menikah lebih besar daripada hasrat punya Tas baru. Jadi yasudahlah ditinggal..

Dan tentang sifat buruk lainnya, adalah tentang kesehatan. Saya sering banget mengelufkan flu dengan Riyu, lagi-lagi Riyu menjadi tempat pengaduan kekesalan saya, “yang sabar ya sayang”. Hingga Riyu bilang saya ini kurang gizi, makanannya nggak sehat, nggak pernah olahraga, makanya kalau kena debu sedikit langsung deh flu. Dalam hati menjawab, memang iya sih. Boro-boro makan buah, yang dalam pikiran cuma cappuccino dingin dan Nasi Padang. Hah..

Karena kebetulah kosan saya dekat banget dengan daerah Thamrin, jadi kan ada Car Free Day setiap Minggu pagi, jadi saya harus ikutan. Kapan lagi coba lihat jalanan Thamrin isinya orang semua bukan mobil. Minggu pagi saya harus mau olahraga, ya walaupun cuma lari-lari kecil saja yang penting keringatnya keluar, dengan ditemani Riyu tentunya. Jadi semangat deh, sambil lari sambil lihat wajah doi, jadi seperti ke cas tenaganya. Hihihi..

Sebenarnya hidup itu tidak seribet masalah-masalah saya diatas. Karena itu hanya kebanyakan klise belaka saja, bukan masalah berat. Itu hanya kelebayan saya menanggapi sesuatu. Padahal orang lain dengan masalah yang sama dengan saya, akan menanggapi biasa-biasa saja. Yang paling penting adalah tetap berpikir positif, dan jadilah pribadi yang pemaaf, lalu hargailah setiap waktu yang berlalu menjadi bermanfaat selagi masih muda. Karena awal tahun depan umurmu sudah 27 tahun, Nola.. kamu harus bisa berubah ke yang lebih baik, jangan senang dengan kehidupan yang seperti ini saja terus menerus, stuck di tempat. Ini nasehat buat diri saya sendiri dari Malaikat di dalam hati. Lebih baik menyadarkan diri sendiri kan, daripada disadarin orang lain. Ohiya satu lagi, harapan di tahun depan semoga dilamar Riyu ya, Aamiin.

Sebelum menutup tulisan ini karena malam sudah larut dan mata sudah mulai melirik kasur, sedikit cerita tentang perubahan positif Riyu yang saya rasakan akhir-akhir ini, adalah ketika dia mulai masuk kedalam dunia saya. Mungkin inilah cara Riyu mencoba menyadarkan saya, bahwa setiap orang perlu perubahan kecil untuk orang yang disayanginya, padahal perubahan kecil itu, berdampak besar bagi saya.


Riyu diam-diam menonton video offline youtube saya di dalam Hp, yang isinya tentang Wedding semua. Padahal dia nggak suka lho nonton begituan, katanya ngapain habis-habisin kuota internet buat download video begini? Tapi kemarin malah kepergok lagi nonton seru, dia malah menikmati banget lho satu persatu videonya dengan wajah yang berseri bahagia.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS