Pages

Saya Dilamar

Sabtu, 13 Februari 2016


Yang dinanti akhirnya datang juga, tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu itu. Tidak ada hujan tidak ada angin topan, Riyu tiba-tiba melamar saya, walaupun nggak ada romantis-romantisnya, tapi saya dag-dig dug.

“no, Mama Papa kamu ada rencana kesini nggak?”
“hmm, ada sih akhir Desember ini, tapi belum pasti juga sih. Emangnya kenapa?”
“oo.. gini.. aku langsung aja ya! Kemarin aku pulang ke Rangkas tu sebenarnya ngobrolin soal kita. Mama dan Papa sudah pengen jadiin kamu mantunya. Intinya gitu.. jadi, kita berencana mau ke Padang buat ngelamar kamu”
“ooooo…” masih menyaksikan mulut Riyu yang nggak berhenti bicara.
“tadi aku browsing harga tiket ke Padang itu ternyata mahalll ya? Nah, aku pikir kalau Mama Papa kamu kebetulan kesini, jadi yaudah disini aja ngomongin maksud baik keluarga aku!! Gimana menurut kamu?”
“hmh… kamu ini ngelamar ya?” seolah masih belum percaya.
“menurut kamu gimana? Ini ngelamar atau sekedar mendongeng aja?”
“nih ya aku kasih tau sama kamu, cowok tuh kalau mau ngelamar ceweknya harus romantis. Ajak makan malam kek, kasih surprise kek, atau gimana gitu jangan pas lagi gini.. kaya kita hari-hari biasa, nggak ada yang spesial” sedikit manyun, tapi dalam hati beda.
“nih yang begini nih, kebanyakan nonton video Wedding.. kamu tuh berharap aku ngelamar kamu di tengah-tengah danau ya? Atau loncat dari tebing tinggi? Ya enggaklah.. ngapain. Yang penting aku tau kalau kamu sayang, dan aku juga sayang sama kamu. Dan aku pengen Nikahin kamu. Udah, itu aja. Ini tuh bukan drama Korea no.. jangan lebay deh!”
“tapi nggak gini juga ri….” Masih berdebat dengan gaya lamaran yang romantis.
“udah sih, jawab aja Mama dan Papa kapan kesini?” Riyu mulai bete sama saya yang mulai merengek-rengek.
“iyaa.. nanti aku telpon hari apa kesininya?” tetap sambil manyun jawabnya.
“aku sayang kamu…” Riyu sambil memeluk, dan saya menitikkan air mata.

Harusnya momen ini spesial banget buat aku tuliskan, atau jadi momen yang tidak bisa dilupakan karena terlalu romantisnya. Tapi kenyataannya, ini memang bukan Drama Korea. Jadi, mungkin ini sisi romatis versi Riyu, dan saya bahagia. Walau niat lamaran Riyu ini sempat bikin kita bete-betean, tapi initnya kita tau bahwa kita saling butuh. Tidak akan bisa bertahan lama betenya. Jadi di syukuri saja dengan hari ini. Yeay.. saya dilamar, kawin kawinnn…

Malamnya saya langsung menelepon Mama, untuk menyiarkan kabar yang bahagia ini. Saya langsung membayangkan wajah Mama dan Papa yang berseri-seri dari balik telepon.

            “asalamualaikum Mam..”
            “waalaikumsalam dek, apakabar kamu! Udah jarang nelpon.. sibuk ya dek?”
            “maaf yam Mam, lagi lembur terus.. pulang-pulang udah tidur!”
            “iya nggak apa-apa.. kamu sehat kan?”
            “alhamdulillah Mam..”
“ohiya kebetulan kamu nelpon, Mama mau cerita deh.. semalam Mama mimpi kamu pulang ke Padang. Tapi nggak sendiri, berdua sama cowok, tapi cowoknya bukan kaya Riyu. Kamu baik-baik aja kan sama Riyu?”
“nah itu dia mam, yang mau Nola omongin”
“hah..” Mama kaget, sepertinya memikirkan kalau saya sudah putus denga Riyu.
“tadi siang Riyu nanyain Mama Papa jadi kesini nggak akhir Desember ini?”
“kenapa gitu? Insya Allah jadi. Setelah Anak Murid Mama terima lapor Mama langsung berangkat kesana sama Papa, kan mau Tahun Baruan sama kamu!!”
“Mam…. Nola dilamar Riyu tadi siang…” suaranya agak sedikit bergetar karena tidak bisa menahan rasa senangnya dihati.
“beneran sayang? Alhamdulillah..” dan mama langsung hilang suaranya..
“Mam.. Mam.. masih disana? Mam..” yah sinyalnya langsung hilang.
“dek, kamu dilamar?” tiba-tiba bang Onal menjawab telepon. Ternyata Mama sedang menggilirkan Hp nya kepadan bang Onal dan Papa.
“banggg, adekmu dilamar… sebentar lagi nikah! Udah ikhlas belum adiknya jadi milik orang?”
“hmmm.. dia nya juga udah siap belum minta izin sama Abang?” bag Onal sambil ketawa.
“nak, Papa senang dengarnya, selamat ya!” sekarang giliran Papa yang memegang Hp.
“makasih Pa, Pa.. nola senang banget hari ini!!”
“iya, apalagi kita disini..”
“dek, besok Mama beli tiket ya, Mama mau buru-buru kesana!” Mama langsung merajai Hp nya sekarang. dan sepertinya sedang senang banget.
Saya pikir, punya pacar orang yang bukan keturuan Minang itu adalah perdebatan panjang bagi keluarga. Karena jika menikah, otomatis saya akan stay lebih lama di pulau Jawa dibandingkan Sumatera. Yang intinya, bakalan jarang pulang. Sedangkan, saya sudah diwanti-wanti keluarga dari dulu untuk mengurusi semuanya disana. Jadi, agak sedikit takut kalau saya menikah dengan Riyu pada akhirnya mereka tidak setuju.

Tapi sepertinya waktu sudah berubah, saya tidak tau obrolan dari mulut siapa yang paling berkuasa disana, sehingga cucu perempuan satu-satunya ini dilamar oleh orang seberang, mereka malah senang, bukannya khawatir akan ini dan itu. Mungkin itu tandanya keluarga saya sudah mulai modern kali ya, jadi mengikuti perkembangan Zaman. Atau memang karena kasihan sama saya nggak laku-laku dari dulu, jadi sekalinya laku, udah dipasrahin aja. Ya ampun! Segitunya. Tapi Alhamdulillah aja deh, yang paling penting buat saya hari ini tuh “bahagia sekali”.

***

Sesampainya di Jakarta, Mama dan Papa langsung mengatur rencana untuk pertemuan itu. Kebetulan kami ada keluarga di daerah Bekasi. Anaknya Kakek, dari istri kedua. Karena Mama anak tunggal, nggak punya adik atau kakak lagi, jadi waktu kecil Mama dikenalkan dengan saudara-saudaranya dari istri kedua Kakek. Dan beliau ini salah satunya. Saya memanggilnya dengan sebutan Mak dang juga. Tapi bukan Mak dang yang di Padang, ini Mak dang yang di Bekasi.

Akhir Desember 2015 ini menjadi hari bersejarah buat saya, Riyu, dan keluarga kami. Riyu datang bersama keluarga besarnya, lengkap dengan keponakan-keponakan kecilnya yang lucu.
Hari itu adalah hari minggu, tepatnya jam 11 siang lewat sedikit. Keluarga besar Riyu sampai di rumah Mak dang. Dari pihak Riyu ada 12 Orang yang datang. Digabungkan dengan keluarga saya sekitaran 10 Orang. Jadi, di ruangan ini ada sekitaran 22 Orang dengan wajah yang hampir sama semua, yaitu wajah deg-deg ser… apalagi Riyu.

Kebetulan siang itu saya diberi amanat untuk duduk manis saja diantara Mak dang dan Papa. Cukup berikan senyum manis, walau hati lagi nggak jelas, tetap berikan senyum semanis mungkin, agar Riyu semangat melamar saya, dan nggak berubah pikiran.

Sambil menyimak saut-saut pengantar dari masing-masing keluarga kami, seperti acara rapat RT. Ada kata pengantar sebelum pembukaan acara di mulai. Di dalam hati saya berkata “o.., emangnya ada begini juga ya kalau acara lamaran itu!” kirain dikampung  aja yang kalau ada apa-apa dirapatin dulu, ternyata disini juga. Namanya juga pertama kali, saya hanya menonton dan mendengarkan saja. Setiap patah kata yang di ucapkan oleh Mak dang, dan dijawab oleh pihak keluarga Riyu dengan rangkaian kata yang indah.

“Jika ada keluarga pemuda datang kerumah wanita dengan bermaksud baik dan membawa *patuka tando, tentulah maksud dan tujuannya adalah Meminang sang gadis penghuni Rumah” tutur kata Mak dang yang Minang banget.
“betul sekali bapak, kami disini bermaksud untuk meminang anak gadis Bapak yang sudah membuat anak kami jatuh hati kepadanya” jawaban dari uwaknya Riyu.

Saya seperti sedang menonton film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick” saat Pevita dilamar sama Reza Rahadian. Aduh, lagi-lagi saya membayangkan sebuah film, udah.. udah ini lagi serius.

Cukup lama saut-sautan pantun dari dua keluarga, acara selanjutnya adalah *manakuak hari pernikahan kami nanti. Dari sekian banyak tanggal baik, ada dua tanggal yang menjadi pilihan keluarga kami semua yang ada disini. Yaitu pertengahan bulan Juli tepatnya setelah Hari Raya, dan satu lagi pada awal Sepetember sebelum Lebaran Haji? Keduanya sama-sama tanggal baik, alias pas banget sama Liburan, duh tiket pasti mahal itu, di dalam hati saya.

Ternyata tidak butuh lama untuk menentukan tanggal baiknya, kami semua setuju dengan awal September, yang artinya itu sebelum Lebaran Haji. Dan selesailah sesi Manakauk Harinya. Lanjut kepada sesi *baretong.

Adat Baretong di Minang itu katanya seru banget. Saking serunya bahkan ada lho katanya yang sampai membatalkan lamarannya, hanya gara-gara kedua belah pihak keluarga tidak menyetujui persyaratan masing-masing. Amit..amit.. jangan sampai itu terjadi disini.

Alhamdulillah, sesi baretong berjalan mulus. Mungkin karena Mama dan Papa saya sudah kebelet pengen punya Mantu kali ya, jadi persyaratan apa saja di iya-in aja sama mereka. Atau memang lagi hari baiknya kami semua disini, jadi dilancarkan acaranya dari awal hingga akhir.

Bekasi siang itu menjadi cerah sekali, secerah hati saya, karena telah menjadi saksi penyatuan dua keluarga kami. Dengan sudah di sah-kannya sebuah tanggal baik di *hari baiak dan bulan baiak lalu persyaratan lainnya dengan lancar.

Perasaan saya sangat bahagia, walau sedikit ternoda bahagianya gara-gara memikirkan soal tabungan di ATM ada berapa ya? Karena ketika Tanggal Pernikahan sudah di tetapkan, berarti pintu gerbang yang sesungguhnya telah terbuka. Inilah tujuan yang sebenarnya. Menjalankan Sunnah Rasul kami.

Kedepan pasti akan banyak yang dilewati, katanya aneh-aneh lho persiapan pernikahan itu. Nah saya cukup penasaran. Isu-isu soal pra menikah pasti ada saja, lalu bisik-bisik tetangga sana dan sini, curhatan teman lama, dan nasehat dari Mama Papa dan Calon Mertua akan menjadi bumbu manis asem manis dalam beberapa bulan ke depan. Tapi Insya Allah niat baik ini selalu dilancarkan oleh Allah SWT, aamiin..aamiin yang banyak.

Keterangan bahasa Minang di atas :
Patuka Tando : mempertukarkan tanda ikatan masing-masing, atau cincin tunangan.
Manakuak hari : menentukan waktu kapan niat itu akan di laksanakan.
Baretong : memperembukkan tata cara yang akan di laksanakan dan apa saja penjemputan yang akan di bawa pada saat Pernikahan.
Hari baiak dan bulan baiak : penentuan tanggal yang bagus untuk acara tersebut di laksanakan

27 Th

Sabtu, 12 Desember 2015

Dua Puluh Tujuh Tahun.

Di penghujung 2015 ini, pastinya banyak sekali harapan untuk Tahun depan. Karena pada Tahun ini ujian hati tidak berhenti datang bergantian hingga malam ini saat saya menulis di depan laptop buluk kesayangan ini.

“Sebuah keegoisan terkadang menghancurkan pilar yang sudah berdiri kokoh sejak awal” Jiyahhh, omongannya berat banget! Udah ah, minum cappucino dulu biar semangat nulisnya.

Sebenatar lagi usia saya 27 tahun, tidak ada lagi yang namanya anak muda labil yang sebentar ngomong A terus sebentar lagi pindah ke-B. sudahlah Nola, lupakan kelabilan itu, sekarang fokuslah sama apa yang diucapkan. Harus konsisten dengan perkataan, harus pikirin dulu apa yang akan diucapkan, jangan asal nyablak kalau kata orang sini.

“okey, baiklah Nola.. akan saya coba” jawaban dari dalam hati ini, seolah-olah ada dua jiwa di dalam sini. Yang satu  Malaikat, dan satu lagi Setan.

Yang pertama sekali harus dibenahi adalah sifat saya. Riyu bilang saya orangnya pendendam. Kalau lagi kesal sama orang saya sampai bilang “lihat aja nanti..” yang tidak sengaja banget kata-kata itu keluar dari mulut saya. Padahal maksud hati nggak sampai sedendam itu lho, kan orang itu cuma senggol sedikit, nggak sampai jatuh apalagi berdarah. Tapi sumpah serapahnya keluar seperti nggak ada saringannya. “nggak boleh gitu lagi ya Nola” kata Malaikat baik di dalam hati saya”

Kadang, emosi itu memang naik turun dengan sendirinya. Tergantung situasi. Kalau memang lagi senang, ya mau ngapain aja orang-orang di depan saya sampai jungkir balik asal tidak mengganggu, ya dibiarin aja. Tapi kalau lagi moodnya jelek, senggol nggak sengaja dikiiiit aja jadi sinis menatap mereka. Parah kan? “jadilah pribadi yang pemaaf” kalau kata Ibuk, dan jujur itu sulit.

Riyu kadang kewalahan menampung segala sifat buruk saya, semuanya diceritain sampai dia bilang “kamu tuh masalahnya banyak banget, aku cape!!”. Ya, memang saya agak banyak bicara, dan cerewet, sepertinya turunan dari mama. Semua buat saya jadi masalah, kalo mood lagi nggak baik. Sampai si abang jualan jus langganan salah bikinin jus buat saya, ngomelnya sampai tuh jus yang diganti selesai, baru deh selesai juga ngomongnya. Dan setelah berjalan jauh, trus tiba-tiba kasihan lihat si abang jusnya saya omelin.

Bukan cuma itu, kadang Riyu suka nggak tahan juga lihat kebiasan buruk saya, padahal menurut saya itu masih normal. Yaitu rayuannya si Nona Diskon di Mall.  lebih berat mana yaa dibandingkan dengan senggol bacok? Dan Riyu menjawab, Kalau yang ini lebih parah. Yaiyalah.. soalnya saya masih sering kalap kalau lihat Tas Incaran dari Bulan lalu nongol dengan Diskon 50% nya. Dan saya sampai tidak bisa tidur karena takut keduluan orang lain. Dan pernah sampai berantem sama Riyu dan dia bilang “istri yang aku cari tu bukan kaya gini..” dan saya bisa apa? Dengan cinta di hati, dan jiwa di Tas? Galaunya seperti ditinggal kekasih menikah. Mungkin seperti itulah perasaan saya disaat tas Incaran ternyata sudah dipersunting wanita lain. Arghhhh… sabar!

Kadang Miss Diskon itu tau diri banget ya menempatkan posisinya. Pas lagi Gajian, pas juga lagi ke Mall, dia datang memanggil. Naluri Perempuan mana yang berani menolaknya coba? Apalagi itu Everbest? Yang kualitasnya saya jamin akan tahan sampai punya cucu. Tapi apa daya, hasrat ingin Menikah lebih besar daripada hasrat punya Tas baru. Jadi yasudahlah ditinggal..

Dan tentang sifat buruk lainnya, adalah tentang kesehatan. Saya sering banget mengelufkan flu dengan Riyu, lagi-lagi Riyu menjadi tempat pengaduan kekesalan saya, “yang sabar ya sayang”. Hingga Riyu bilang saya ini kurang gizi, makanannya nggak sehat, nggak pernah olahraga, makanya kalau kena debu sedikit langsung deh flu. Dalam hati menjawab, memang iya sih. Boro-boro makan buah, yang dalam pikiran cuma cappuccino dingin dan Nasi Padang. Hah..

Karena kebetulah kosan saya dekat banget dengan daerah Thamrin, jadi kan ada Car Free Day setiap Minggu pagi, jadi saya harus ikutan. Kapan lagi coba lihat jalanan Thamrin isinya orang semua bukan mobil. Minggu pagi saya harus mau olahraga, ya walaupun cuma lari-lari kecil saja yang penting keringatnya keluar, dengan ditemani Riyu tentunya. Jadi semangat deh, sambil lari sambil lihat wajah doi, jadi seperti ke cas tenaganya. Hihihi..

Sebenarnya hidup itu tidak seribet masalah-masalah saya diatas. Karena itu hanya kebanyakan klise belaka saja, bukan masalah berat. Itu hanya kelebayan saya menanggapi sesuatu. Padahal orang lain dengan masalah yang sama dengan saya, akan menanggapi biasa-biasa saja. Yang paling penting adalah tetap berpikir positif, dan jadilah pribadi yang pemaaf, lalu hargailah setiap waktu yang berlalu menjadi bermanfaat selagi masih muda. Karena awal tahun depan umurmu sudah 27 tahun, Nola.. kamu harus bisa berubah ke yang lebih baik, jangan senang dengan kehidupan yang seperti ini saja terus menerus, stuck di tempat. Ini nasehat buat diri saya sendiri dari Malaikat di dalam hati. Lebih baik menyadarkan diri sendiri kan, daripada disadarin orang lain. Ohiya satu lagi, harapan di tahun depan semoga dilamar Riyu ya, Aamiin.

Sebelum menutup tulisan ini karena malam sudah larut dan mata sudah mulai melirik kasur, sedikit cerita tentang perubahan positif Riyu yang saya rasakan akhir-akhir ini, adalah ketika dia mulai masuk kedalam dunia saya. Mungkin inilah cara Riyu mencoba menyadarkan saya, bahwa setiap orang perlu perubahan kecil untuk orang yang disayanginya, padahal perubahan kecil itu, berdampak besar bagi saya.


Riyu diam-diam menonton video offline youtube saya di dalam Hp, yang isinya tentang Wedding semua. Padahal dia nggak suka lho nonton begituan, katanya ngapain habis-habisin kuota internet buat download video begini? Tapi kemarin malah kepergok lagi nonton seru, dia malah menikmati banget lho satu persatu videonya dengan wajah yang berseri bahagia.

Plus Minus Si Perantau

Rabu, 12 Agustus 2015


Plus Minus Si Perantau.

Ada plus pastilah ada minus juga, dan inilah cerita dari pengalaman saya menjadi Si Perantau di Ibukota. Ada seru, ada sedih, dan banyak lagi. Komplit seperti nasi goreng gila si abnag-abang depan gang kosan.

Yang pertama adalah soal kata-kata “perhitungan”? buat saya julukan itu sedikit menyakitkan hati, karena menurut saya itu hanya bahasa halus dari “Pelit”. Iya kan? Di kantor tempat saya kerja, sekarang saya diberi julukan seperti itu. Padahal apa yang salah dengan “ke-perhitungan” ini? Saya hanya mencoba menjadi anak yang baik dengan memaruh gaji saya untuk keseharian dan tabungan. Sambil mengumpat, memangnya mereka yang sudah enak tinggal sama orang tuanya disini! makan sudah tersedia, tempat tinggal sudah ada, kalau sakit ada yang mengurus. Sedangkan saya? Disini seorang diri, tinggal di kos-kosan yang sempit dengan biaya kosan seperempat dari gaji saya perbulannya. Belum lagi soal makan yang semuanya harus dibeli dari pagi, siang, dan malam. Belum lagi juga untuk biaya tak terduganya. Apakabarnya sama bedak, lipstik dan nonton bioskop? Belum lagi popcornnya. Nah, sisa-sisanya (kalau ada) baru masuk
ke tabungan. Jadi, apa permasalahannya dengan Perhitungannya saya?

Yang kedua soal “keuntungan”. Ternyata di Jakarta itu rata-ratanya adalah “urang awak” lho! Yang artinya banyak juga orang Padang yang tinggal disini. Di Tanah Abang contohnya, kalau kamu belanja pakaian dengan logat dan gaya bahasa yang Minang banget, kamu akan dapat harga berbeda dari orang-orang.

            “da bara baju sirah ko da?”
            “limopuluah diak..” si uda dengan senyum menjawab. “dima Padangnyo diak?”
            “di tabiang da.. Uda dima?”
            “ooo.. uda di Bukik”

Dan dengan sendirinya setelah itu harga yang tadinya Rp. 50.000 menjadi Rp. 35.000. seru kan?
Alhamdulillah sekali ya, rejeki anak baik. Nah buat yang merasa anak Minang banget, banggalah dengan bahasa tercinta kamu itu. Tidak hanya di Tanah Abang, di Restoran Padang juga rata-rata seperti itu. Tapi kalau ketemu sama penjual yang juga orang Padang ya! Bahkan kalau kamu bisa mencuri hatinya saat ngobrol, bisa digratiskan minum jus nya lho!! Wah wah.. senang sekali dengan bahasa Minang ini, jadi hemat banget pengeluarannya.  

Yang ketiga soal “pilihan”. Nah permasalahan yang ketiga ini cukup berat. Pilih-pilih teman. Disini banyak yang bermuka dua, katanya. Ada yang pura-pura, dan ada juga yang kelihatannya saja sangar tapi kalau sudah bicara kemayu, yang itu agak sedikit ekstrim sih, tapi memang ada.

Pilihannya, adalah mau dibawa kemana Masa Muda kamu ini? Kalau kamu mau punya banyak teman dengan cara menghamburkan uang gajimu hanya untuk ngumpul-ngumpul seru di kedai kopi setiap malam, kamu tidak akan merasakan yang namanya kesepian. Tapi tabunganmu?? Akan berbeda jika kamu memilih nonton Film di laptop dari Toko Kaset Dvd Rp. 20.000 dapat 3 biji. Kamu akan menghabiskan malam di dalam kamar hanya dengan kasur, bantal, guling, dan wafer. Sedikit kesepian namun banyak tabungan.
Yap itulah pilihannya! Dan saya lebih memilih pilihan yang terakhir, karena menurut saya teman itu hanya ada saat tertawa. Oups.. maafkan statement saya yang itu! Saya lebih memilih punya tabungan banyak agar bisa dibawa pulang untuk membahagiakan Mama Papa. Walau terdengar agak klise sih, tapi tujuan saya saat ini adalah memang untuk membahagiakan mereka.

Hidup di rantau memang seperti permen masa lampau yang manis-asam-asin. Komplit. Kamu harus pilih yang mana sesuai dengan Passion kamu. Jangan ikut-ikutan, karena hanya akan menyesatkan. Katanya sih, dewasa versi anak rantau berbeda lho dewasa versi anak yang masih tinggal sama orang tuanya!! Mungkin pengalaman saya ini salah satunya. Mereka yang tinggal dengan orang tuanya tidak akan merasakan getirnya “menyisakan uang” agar bisa pulang kampung saat Lebaran.

Dan satu lagi, getir lainnya adalah disaat saya lebih memilih waktu lembur paling lama dibandingkan teman-teman kantor lainnya. Alasannya cuma “di kamar kosan mau ngapain?” dan jadilah saya dengan layar komputer ini hingga larut malam. Dengan segelas cappuccino kesukaan, dan membayangkan uang lemburan sedang berjalan menuju tabungan saya, saya menjadi semangat seperti pejuang 45 yang akan berperang dengan penjajah. Inilah secercah cerita plus-minus saya saat di rantau yang getir, geli-geli tir..

Zona Nggak Nyaman

Senin, 03 Agustus 2015

Zona Nggak Nyaman.

Benar kata orang, kalau merantau itu tidak seenak tinggal dengan orang tua. Tapi, hikmahnya banyak, kamu bisa hidup mandiri, dan tau bagaimana caranya berjuang. Yap benar sekali, tentang berjuang, contohnya saat ini saya sedang berjuang melamar kerja kesana kemari, berjuang juga mencari tempat makan yang cocok di lidah karena disini makanannya manis semua, dan berjuang juga dalam merencanakan pengeluaran menjadi lebih minimal.

Perlahan, langkah ini mulai terasa berat. Mencari kerja itu tidak semudah kamu masukkan lamaran pekerjaan terus langsung dipanggil untuk Interview, atau setelah kamu Interview saat kamu memberikan jawaban berwibawa dan bonus sedikit senyum manis, terus langsung diterima bekerja, jawabannya “Tidak” saudara-saudara. Cari kerja itu sulit. Tidak semudah saat kamu browsing lowongan pekerjaan di Google yang keluarnya banyak banget, tapi yang dibutuhkan cuma satu-dua orang saja, sedangkan yang melamar beribu. “Sedangkan saya mah apa atuh, punya skill yang biasa-biasa saja, cuma punya modal nekat aja ke Jakarta”.

Disini, ternyata bukan cuma cari kerja saja yang susah, mencari makan yang sesuai dengan selera dan lidah santan juga sulit. Warteg dan warkop berserakan dimana-mana, apalagi di daerah kosan saya yang kebetulan dekat dengan kampus Trisakti. Jadi rata-rata banyak yang jualan makanan ala anak kosan disini, lumayan murah sih harganya, tapi nggak banget rasanya.

Sayangnya, saya belum bertemu dengan Restoran padang disini, jadi hari-hari makannya ditelan saja apa adanya, yang penting sesuai dengan kantong, dan tabungan masih aman karena nggak mahal. Ini keluhan yang pertama, menjadi dilemma saat bulan-bulan pertama saya tinggal disini. Kalau saja Ibuk tau cucunya seperti ini, pasti dikirimkannya bang Onal untuk menjemput adiknya pulang. Tapi, baru satu bulan, masih ada dua bulan lagi masa percobaan yang diberikan Mama untuk merantau ini. Semoga dalam beberapa minggu kedepan sudah dapat kerja, biar nggak diseret pulang sama keluarga.

Lanjut keluhan yang kedua, yaitu permasalahn yang cukup berat, soal pengeluaran yang tak terduga, dan biayanya hampir sama dengan biaya makan saya sehari. Saya disini tidak punya apa-apa, hanya bawa badan dan koper isi baju saja. Untuk melamar pekerjaan itu kan butuh banyak kertas surat lamaran, seperti CV, ijazah, transkirip nilai, dan surat referensi lainnya, sedangkan saya nggak punya printer disini, ya otomatis ke abang-abang fotokopi kan sama abang tukang print. Dan saya baru tau bahwa harga print selembar kertas disini itu lebih mahal dibandingkan dengan harga print di kampus saya dulu. Selembar kertas yang di print itu harganya Rp. 2.000/ lembar, dan untuk fotokopi Rp. 500/ lembarnya. Dikalikan sepuluh lembar kan lumayan, tiba-tiba ingat sama mesin printer dirumah yang menganggur. Andai saja waktu itu saya bawa.

“bang ngeprint yak, ini masing-masing sepuluh lembar, trus KTP ini juga di fotokopi sepuluh lembar” sambil menyodorkan file-file lamaran pekerjaan saya.
“iyap.. jadi yang di print 50 lembar dan Fotokopi 10?
“iyap bang..”

Sambil menunggu si abang kerjaanya selesai, saya sibuk dengan Inbox Gmail yang ada jadwal Interview lagi besok hari.

            “dek, nih sudah, semuanya jadi Rp. 105.000 ?”
            “hah?” punya saya bukan??? Kaget naudzubillah pengen copot nih jantung.
            “iya, yang print 50 lembar sama fotokopi 10 lembar kan?”
            “hah..iya..” bengong sambil melihat lembaran-lembaran yang diberikan kepada saya.
            “ngeprint selembarnya berapaan bang?”
            “print selembarnya duaribu, fotokopi selembarnya limaratus..”
            “hah ngeprint selembar kertas duaribu bang? Nggak salah? Kan bukan warna..”
            “sama aja dek warna sama nggak..”

Si abang cari berantem nih, tau banget wajah dungu ini nggak tau apa-apa, dikerjain. Yaudahlah, sudah terlanjur ngeprint dan fotokopi jadi dibayar aja. Kapok banget ketemu sama si abang-abang itu lagi. Nggak bakalan saya balik kesana.. hufttttt.

Jika tulisan ini saya lanjutkan, akan banyak keluhan-keluhan lainnya yang akan saya jabarkan. Mulai dari yang kecil-kecil sampai yang besar. Tapi itu kan tidak baik, karena mengeluh hanya akan menyempitkan hati saya “itu kata Ibuk”.

Katanya Jakarta asyik, tapi saya belum menemukan bahwa Jakarta se-asyik yang anak-anak ABG di Film FTV itu katakan. Apa karena saya bukan Artis ya, hanya seorang rakyat biasa yang untuk membayar fotokopi saja mengeluhnya seharian.

Tapi, walaupun Jakarta nggak se-asyik itu, saya nggak mau pulang ke Padang sebelum mendapatkan pekerjaaan. Saya harus bisa membiayai makan dan ongkos sehari-hari, biar nggak malu lagi minta sama Mama dan Papa. Saya harus semangat cari kerja, jiwa anak perantaunya harus benar-benar keluar nih, biar nanti pulang ke Padang lagi sudah bisa buat keluarga bangga.


Kerja Di Bank.

Kalau rejeki nggak akan kemana, nggak akan ketukar kalau kata Ibuk di kampung. Benar banget. Yeay… Alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan sekarang. Rejeki yang luar biasa buat saya, sampai-sampai mengucapkan syukur sepanjang perjalanan menuju kosan setelah selesai Interview terakhir tadi siang.

“oke, Nola.. tes kamu bagus, memenuhi syarat kita, dan kamu bisa kesini lagi besok pagi jam setengah 8 ya, pakaian rapi” si mas Budi bilang.
            “besok? Ada tes lagi ya mas Budi?
“emangnya kamu masih mau di tes lagi?? Kamu besok udah mulai kerja.. tandem dulu ya sama mba Eno. Besok saya kenalin, dan jangan telat yak!!”
“Alhamdulillah.. beneran mas? Wah makasih ya mas.. makasih” cengengesan kaya anak kecil dapat permen.

 Mendapatkan pekerjaan di rantau itu sesuatu banget, seperti sebuah harapan yang besar buat saya, karena sudah dari dulu saya memimpikan ini, dan akhirnya datang juga. Tuh kan, saya percaya jalan Allah itu menarik. Cukup sabar aja yang banyak, dan tetap semangat lalu tawakal, Insya Allah dapat.

Karena kelewat senang, saya sampai telpon orang sekampung. Bangga sama diri sendiri bisa juga menembus dunia pekerjaan yang katanya sulit mendapatkannya, apalagi kalau kerjanya di Bank. Waduh bisa-bisa jadi omongan nih sama sanak sodara. Sambil senyum-senyum sendiri karena masih belum percaya. Ya, walau beda jurusan dengan kuliah saya, tapi nggak apa-apalah, buat pengalaman dulu. Sambil nanti dicari lagi yang sesuai dengan hati dan hobi.

Di kampung, kerja di Bank itu adalah sesuatu yang “wahh” banget apalagi buat orang tua. Katanya siapa yang bisa masuk kerja disana itu hebat, tapi kenyataannya itu tidak. Benar-benar tidak seindah saat kita lihat wajah wajah cantik berseri nan ramah para Teller dan Customer Service nya.

Kerja di Bank itu dikejar-kejar target, kalau sudah closing akhir bulan bahkan bisa pulang hingga larut malam, bahkan bisa lho hari libur tetap masuk. Parah kan? Seperti dipingit, nggak bisa apa-apa dan nggak bisa kemana-mana, cuma bisa kerjakan pekerjaanmu sebaik mungkin agar tetap diperpanjang kontrak kerjanya. Syukur-syukur dapat insentif, kalau enggak yang gigit jari aja dulu.

Tentang kerja di Bank yang sudah membuat Mama, Papa, ibuk, Amak, dan Anduang bangga di kampung, membuat saya lega. Karena mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan saya. Terlepas dari rasa lelah yang saya rasakan menjadi anak baru di kantor ini, buat saya yang penting keluarga bangga. Itu saja, sudah cukup.

            “dapat kerja.. dapat kerja.. yeay.. yeay..”

  
Ada Yang Suka.

Siang itu lagi ngolect Nasabah Infinit yang udah sebulan nggak bayar kartu kreditnya. Tiba-tiba mba Yuni, berbisik dari samping.

            “Nol, perhatiin cowok sipit itu deh, tiap kali dia lewat depan lu, ngelirik lu terus tauk!”
            “hah? Yang mana? Masa sih?”
“noh, yang itu tuh yang pake kemeja garis-garis coklat” sambil menunjuk kearah yang bersangkutan.
“ooooo, bukan gue kali, mba Enno mungkin?” karena kebetulan saya duduknya sebelah-sebelahan dengan mba Enno dan mba Yuni.
            “ih, beneran elu Nol! Yaudah, kita perhatiin sama-sama ya pas dia lewat lagi nanti!”
            “ciyeeee nolnol.. ada yang suka” saut mba Enno karena mendengar pembicaraan kita.

Di kantor, kubikel kita berjajaran satu sama lainnya. Jadi kita duduknya samping-sampingan, lebih leluasa buat gossip emang, daripada duduk depan-depanan yang harus bersorak dulu baru dijawab. Nah kebetulan, kubikel team saya tempatnya paling ujung dekat dengan Toilet. Jadi, selantai ini, kalau ada yang mau ke Toilet, pasti ngelewatin meja kita dulu. Berarti kalau yang bersangkutan ke Toilet pasti lewat di depan kita. Siap-siap jadi bahan omongan.

“Nol, lu perhatiin ya, doi datang tuh” mba Yuni sambil berbisik kearah saya dan memonyongkan bibirnya kearah cowok berkemeja garis-garis coklat tersebut.
Satu, dua, tiga, kami menghitung bersama-sama. Dan tadaaa… saya langsung mengambil botol air minum dan meminumnya. Nggak sadar bahwa botol minuman tersebut airnya kosong karena belum saya isi. Gelagapan atau ge-er duluan ya! Saat wajah yang bersangkutan ternyata memang kepergok menatap kearah saya. Oh my God

“Nol, lu ngapain?” mba Enno lagi memperhatikan botol air minum saya yang kosong sambil nunjuk-nunjuk dan ketawa.
“ciye Nola, malu-malu kucing, kucing aja nggak malu diperhatiin” mba Yuni menang banget rasanya, kalau omongan dia itu memang benar.

Obrolan kita sampai kedengeran sama SPV, mas Budi. Dia heboh sendiri waktu tau saya ada yang suka. Katanya sih saya jomblo akut, jadi waktu tau ada yang suka mereka seperti celebrate gitu, hedeuh sebegitu nggak lakunya saya ya?

“ciye, Nola ada yang suka juga?” sambil nongolin kepalanya kearah kubikel-kubikel kita bertiga.
            “hajarrr Nola..” sambung mba Yuni.
            “Bud, sampe anak lu gelagapan minum botol kosong!!” timpa mba Enno.
            “hahahahaha…” mereka semua tertawa, dan habislah saya cuma bisa diam.

Di kantor keseharian kita memang lebih santai, tapi soal target, kita nggak bisa dibilang santai. Itu hanya milik pribadi masing-masing orang yang kerja di dalam sini. Jika wajahnya baik, manis, dan bersahabat, tapi dalam pekerjaan kita bisa saling tikung menikung mengejar target. Sudah biasa banget, tapi kalau soal jiwa persahabatan, kita akan dengan gampangnya bilang “jalanin amplop coklat yuk, bokapnya dia masuk R.S” itu keren buat saya.

Lanjut cowok berkemeja coklat garis-garis, siapa dia? Karena dari sekian banyak cowok disini yang hampir saya tau wajah-wajahnya, kenapa yang satu itu luput dari pandangan saya ya selama ini. Atau memang baru masuk?

“bener kan Nol, lu sih nggak percaya sama gue!” sambung mba Yuni setelah istirahat makan siang.
“au ah mba.. gue mau sholat dulu yak.. mau doa biar banyak dapat Insentif” sebenarnya sih saya menghindar karena males jadi bahan obrolan teman-teman sebangku.

Jodoh itu seperti apa sih ya? seperti inikah? Saat diobrolin atau saat sedang saya pikirkan, tiba-tiba dia nongol di depan mata. Di Musholla siang itu, yang lagi sholat ternyata dia and the genk nya, dan cuma saya perempuan satu-satunya. Sebenarnya sih nggak apa-apa, tapi yang jadi masalahnya disana ada mas Budi. Dan mas Budi ini punya Hobbi heboh sendiri dari dulu. Habislah saya hari ini kalau sampai dia membuka cerita tadi.

            “eh, lu siapa namanya?” mas Budi nunjuk kearah cowok berkemeja coklat garis-garis.
            “Riyu mas..” dia menjawab.

Didalam hati saya, oo.. kamu namanya Riyu. Setelah itu balik lagi kepada keadaan yang sedang sengit. Hati saya mulai nggak enak, karena sepertinya akan malu disini.
“cewek ini pengen kenalan sama lu..” mas Budi bikin saya malu di depan teman-temannya segenk, awwwwww.

Siang itu sepertinya saya sudah digariskan untuk malu, jadi nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain malu. Walau dalam hati kesel banget sama kelakuan mas Budi menjatuhkan harga diri saya buat kenalan sama Riyu. Padahal kan enggak sama sekali. Awwwwwww lagi.

Yap, namanya Riyu. Baik banget asli, ramah lagi, wajahnya oriental, matanya yang sipit membuat senyumannya menjadi manis. Ah Riyu, kamu ini membuat saya begadang nanti malam.


Mama Kebelet.

Apa yang dilakukan seorang Ibu ketika tau anaknya sudah punya pacar dirantau? Yap, disuruh nikahin anaknya. Kalau enggak, anak perempunanya nggak boleh diajak pacaran! parah kan? Eh, apakah itu cuma Mama saya saja? Atau Mama lainnya yang Anak Gadisnya juga tinggal di perantauan melakukan hal yang sama seperti Mama saya lakukan? Atau ini hanya ke-lebay-an Mama saya saja yang sudah kebelet pengen punya mantu.

Baiklah, kali ini saya akan perkenalkan pacar saya, namanya Riyu. Kita jadian mamen.. (sambil gerakin tangan ala Raper gitu). Dia Sunda pisan, lahir di Sukabumi, sekolah di Bandung, dan orang tuanya di Rangkasbitung. Mencar-mencar gitu ya!!

Tapiii.., kali ini saya bukan menceritakan tentang kenapa saya dan Riyu sampai Jadian. Karena ceritanya panjang banget kaya’ tali monyet di Kampung. Tetapi menceritakan tentang Mama saya yang sudah kebelet banget pengen punya mantu. Jadi begini ceritanya, saat itu kita lagi telpon-telponan.

            “Mam, ingat Riyu nggak yang waktu itu Nola ceritain?”
            “iya dek, kenapa?” Mama langsung ketus gitu, takut dia apa-apain anaknya.
            “dia nembak Nola mammmmm….” Sambil senyum-senyum geli sendiri diatas kasur.
            “hah? Allll..Ham…Du..Lillah..” Mama nyebut apa berdoa ya itu?
            “hihiii, kemaren nola diajak makan malam Mam!”
“trus..truss dek.. gimana lagi ceritanya, dia ngomong apa aja!” maafkan Mama saya yang kepo. Semoga cuma Mama yang seperti itu, kalau banyak, kasian anak Gadis diluar sana yang makan hati.
“yaa gitu deh Mam.. katanya suka, Nola lucu, dann… ya gitu deh Mam!” malu-malu.
“baik nggak dek? Orang mana?”
“ba-ik banget Mam, ramah lagi orangnya, dia orang Sukabumi.”
“oooo, kapan-kapan Mama ngobrol ya sama dia..”
“boleh boleh.. nanti kalau Mama nelpon pas Riyu lagi disini, nanti Nola kasih ke Mama ya! Tapi jangan ngomong yang macam-macam dulu”
“iyaa, gampang, paling nanyain kapan ke Padang?”
“yaelah si Mama…, jangan ekstrim gitu deh pertanyaannya, baru pacaran ini Mam!!”
“yaiyalah, Mama tuh lagi cari Menantu, bukan cari teman buat kamu!”
“ah Mammm.. ngak asyik banget sih telponannya sekarang! mau ngobrol sama Papa aja atau bang Onal deh..”

Sepertinya mama memang sudah kebelet banget pengen punya mantu. Selain percakapan diatas, beberapa minggu kemarin setiap kali kita telponan, dan saya tanya “Mam, hari minggu gini kemana?” terus mama akan senangnya menjawab “ke pesta Pernikahan anak temennya” dan menceritakan semua keseruan-keseruan disana. Seperti catering yang enak, pelaminan yang cantik, model baju Anak Daro yang bagus, dan banyak lagi keseruan lainnya yang beliau nggak akan berhenti kalau sedang membicarakannya. Dan diujung cerita Mama akan dengan gampangnya bertanya, kamu kapan?

            “dek kapan?”
“tabungannya aja nggak nambah-nambah Mam, emangnya Mama yang mau biayain semua Resepsinya?” itu jawaban yang paling bisa buat mama diam.


Saya tau mama itu sayang banget sama anaknya ini, karena kata mama, cuma mau lega aja hatinya kalau ada yang jagain anaknya disini. Biasalah korban berita di TV yang katanya banyak penculikan, pemerkosaan, rampok, begal, dan kecelakaan. Jadi, kalau ada yang jagain disini kan tenang. Iya sih tenang, tapi kan bukan suruh anak orang ngelamar saya besok pagi juga! Kan kasihan. Soalnya nggak tega sih lihat wajah Riyu jadi banyak pikiran karena dikejar-keja calon Mama mertua. Udah sayang soalnya. Oups… 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS